Dr. Dirgantara Wicaksono. M.Pd Makalah Model Pembelajaran PAIKEM

Model Pembelajaran PAIKEM dan Implementasinya dalam Pembelajaran PKn sd

Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah :
Pengembangan Pembelajaran PKn di SD

Dosen :

Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd.

Oleh :

Winda Misye Pramesti (2015820007)
Rani Novianti (2015820011)
Maya Noprilia (2015820028)
Gita Destriani (2015820036)
Heriza Windayanti (2015820126)
Angina Rolian Nasution (2015820022)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017

KATA PENGANTAR

       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini  mengenai “Model
Pembelajaran PAIKEM & Implementasinya dalam Pembelajaran PKn SD” sesuai
dengan waktu yang ditetapkan. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Perencanaan Pembelajaran. Kami menyusun makalah ini  mencoba memberikan suatu
pemahaman yang berguna untuk pembaca. Serta mengembangkan minat untuk
mempelajarinya
     Harapan kami semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi  siapa saja yang
membacanya khususnya untuk teman-teman yang memiliki background pendidikan.
kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat rapuh dan jauh dari kata sempurna.
Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Oktober 2017

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Pengertian Model Pembelajaran PAIKEM 3
B. Ciri-Ciri Model Pembelajaran PAIKEM 9
C. Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran PAIKEM 10
D. Hal-Hal yang Perlu diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM 13
E. Penerapan Model Pembelajaran PAIKEM 16
F. Peran Guru dalam Pembelajaran PAIKEM 20
G. Model Pembelajaran yang berorientasi pada PAIKEM 24
H. Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran 29
I. Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran PAIKEM 32
J. Implementasi Pembelajaran PAIKEM di SD 34
BAB III PENUTUP 41
Kesimpulan 41
Saran 41
DAFTAR PUSTAKA 42

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang
dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Pembelajaran ibarat jantung dari proses
pendidikan. Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan lulusan dengan hasil
belajar yang baik pula, demikian pula sebaliknya.
Pada kenyataan dilapangan hasil belajar siswa selama ini masih kurang dan
belum sesuai dengan yang diharapkan, baik secara intelektual maupun sikap. Siswa
belum mencapai tahap kompetensi yang ideal. Oleh karena itu perlu adanya
perubahan dalam proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah berlangsung
selama ini. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis akan mencoba
membahas Model PAIKEM karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan
anak, mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari Model Pembelajaran PAIKEM?
2. Apa Saja Ciri-Ciri Model Pembelajaran PAIKEM?
3. Apa Saja Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAIKEM?
4. Apa Saja Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM?
5. Bagaimana Penarapan Pembelajaran PAIKEM?
6. Bagaimana Peran Guru dalam Pembelajaran PAIKEM?
7. Apa Saja Model Pembelajaran yang Berorientasi pada PAIKEM?
8. Apa Saja Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran PAIKEM?
9. Apa Saja Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran PAIKEM?
10. Bagaimana Implemetasi Model Pembelajaran PAIKEM dalam Pembelajaran
PKn SD?

42

C. Tujuan Masalah
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian dari Model Pembelajaran PAIKEM.
2. Untuk Mengetahui Apa Saja Ciri-Ciri Model Pembelajaran PAIKEM.
3. Untuk Mengetahui Apa Saja Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran PAIKEM.
4. Untuk Megetahui Apa Saja Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam
melaksanakan PAIKEM.
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Penerapan Pembelajaran PAIKEM.
6. Untuk Megetahui Bagaimana Peran Guru dalamPembelajaran PAIKEM.
7. Untuk Mengetahui Apa Saja Model Pembelajaran yang Berorientasi pada
PAIKEM.
8. Untuk Mengetahui Apa Saja Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran
PAIKEM.
9. Untuk Mengetahui Apa Saja Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran
PAIKEM.
10. Untuk Mengetahui Bagaimana Implemetasi Model Pembelajaran PAIKEM
dalam Pembelajaran PKn SD.

42
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dari Model Pembelajaran PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa
mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun
merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah
menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas,
perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan,
keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan. Membangun metode pembelajaran
inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap
karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing
orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap
ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan,
auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus
disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan
yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa
percaya diri siswa. Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar
yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga
siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah
perhatiannya (“time on task”) tinggi.
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan
hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses
pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa
setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah
tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan

42

menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti
bermain biasa. Siswa tidak memungkiri metode “PAIKEM” sama dengan
pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan” merupakan metode
yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa. bagaimana guru
menyampaikan materi merupakan penilaian utama siswa, seorang guru mempunyai
wawasan yang luas akan tergambar dengan cara bagaimana seorang guru
menyampaikan pembelajaran di kelas, fokus terhadap materi dan penyampaian
yang mudah dimengerti oleh siswa. peduli terhadap siswa dan tidak pilih-memilih
(diskriminatif), performance yang menarik serta bisa dijadikan partner dalam
berdiskusi dan berkeluh kesah merupakan sekian banyak kriteria yang siswa
sampaikan jika seorang guru ingin menjadi favorit di mata siswa (Herman, 2008).
1. Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih
banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan
pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas,
sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan
pemahaman dan kompetensinya. Dalam pembelajaran aktif, guru lebih banyak
memposisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan
belajar (to facilitate of learning) kepada siswa. Dalam kegiatan ini siswa terlibat
secara aktif  dan berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih
banyak memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan
jalannya proses pembelajaran. (Rusman, 2010: 322-324).
2. Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif juga merupakan strategi pembelajaran yang
mendorong aktivitas belajar. Maksud inovatif disini adalah dalam kegiatan
pembelajaran itu terjadi hal-hal yang baru, bukan saja oleh guru sebagai
fasilitator belajar, tetapi juga oleh siswa yang sedang belajar. Dalam strategi
pembelajaran yang inovatif ini, guru tidak saja tergantung dari materi
pembelajaran yang ada pada buku, tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal

42

baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan masalah yang
sedang dipelajari siswa. Demikian pula siswa, melalui aktivitas belajar yang
dibangun melalui strategi ini, siswa dapat menemukan caranya sendiri untuk
memperdalam hal-hal yang sedang dia pelajari. Pembelajaran yang inovatif bagi
guru dapat digunakan untuk menerapkan temuan-temuan terbaru dalam
pembelajaran, terlebih lagi jika temuan itu merupakan temuan guru yang pernah
ditemukan dalam penelitian tindakan kelas atau sejumlah pengalaman yang
telah ditemukan selama menjadi guru. Melalui pembelajaran yang inovatif ini,
siswa tidak akan buta tentang teknologi dan mereka bisa mengikuti
perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Dengan demikian pembelajaran
diwarnai oleh hal-hal baru sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. (Uno, 2012: 11).
3. Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang
mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa
selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan
strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan
pemecahan masalah. Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk merangsang
kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun
dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai  dengan berpikir 
kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada
atau memperbaiki sesuatu.Berpikir kritis harus dikembangkan dalam proses
pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan kreativitasnya. Pada
umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagai berikut,  yaitu:
1) Tahapan pertama; persiapan, yaitu proses pengumpulan informasi untuk
diuji.
2) Tahap kedua; inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan 
hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis
tersebut rasional.

42

3) Tahap ketiga; iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan
bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional.
4) Tahap keempat; verifikasi, yaitu pengujian kembali hipotesis untuk
dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau teori.
Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang
menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif
dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru. (Mulyasa, 2006:
192)
4. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan
pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi siswa, serta
mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat
dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus dilibatkan secara
penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran
betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi
siswa. Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan siswa secara aktif, karena
mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi.
Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan oleh guru
sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Dalam
pelaksanaannya perlu proses penukaran  pikiran, diskusi, dan perdebatan dalam
rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi standar yang harus
dikuasai siswa. Pembelajaran efektif perlu didukung oleh suasana dan
lingkungan belajar yang memadai/kondusif. Oleh karena itu guru harus mampu
mengelola siswa, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi
pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar. Menciptakan kelas yang
efektif dengan peningkatan efektivitas proses pembelajaran tidak bisa dilakukan
secara parsial,melainkan harus menyeluruh mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan
melalui prosedur sebagai berikut:(1)   melakukan appersepsi, (2)melakukan

42

eksplorasi, yaitu memperkenalkan materi pokok dan kompetensi dasar yang
akan dicapai, serta menggunakan variasi metode, (3) melakukan konsolidasi
pembelajaran, yaitu mengaktifkan siswa dalam pembentukan kompetensi siswa
dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa, (4) melakukan penilaian, yaitu
mengumpulkan fakta-fakta  dan data/dokumen belajar siswa yang valid untuk
melakukan perbaikan program pembelajaran. Untuk melakukan pembelajaran
yang efektif , guru harus memerhatikan beberapa hal, sebagai berikut: (1)
pengelolaan tempat belajar, (2) pengelolaan siswa, (3) pengelolaan kegiatan
pembelajaran, (4) pengelolaan konten/materi pelajaran, dan (5) pengelolaan
media dan sumber belajar. (Rusman, 2010: 325-326).
5. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses
pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan
siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan ( not under
pressure) (Mulyasa, 2006:194).Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan
adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam
proses pembelajaran. Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar siswa,
bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari
siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis dan tidak ada
beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Untuk
mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu
merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih
dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan siswa secara optimal.Ada
empat aspek yang memengaruhi model PAIKEM, yaitu pengalaman, komunikasi,
interaksi, dan refleksi. Apabila dalam suatu pembelajaran terdapat empat aspek
tesebut, maka pembelajaran PAIKEM terpenuhi. 
1) Pengalaman
Aspek pengalaman ini siswa diajarkan dapat belajar mandiri. Di dalamnya
terdapat banyak cara untuk penerapannya antara lain seperti eksperimen,

42

pengamatan, penyelidikan , dan wawancara. Aspek pengalaman ini siswa
belajar banyak melalui berbuat dan dengan melalui pengalaman langsung.
2)  Komunikasi
Aspek komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, misalnya;
mengemukakan pendapat, peresentasi laporan, dan memajangkan hasil
kerja. Kegiatan ini siswa dapat mengungkapakan gagasan, dapat
mengkonsolidasi pikirannya, mengeluarkan gagasannya, memancing
gagasan orang lain, dan membuat bangunan makna mereka dapat diketahui
oleh guru.
3) Interaksi
Aspek interaksi ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, Tanya jawab,
dan saling melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan
makna yang diperbuat oleh siswa-siswa berpeluang untuk terkorelasi dan
makna yang terbangun semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil
belajar meningkat.
4) Refleksi
Aspek ini yang dilakukan adalah memikirkan kembali apa yang telah
diperbuat/dipikirkan oleh siswa selama mereka belajar. Hal ini dilakukan
supaya terdapatnya perbaikan gagasan/makna yang telah dikeluarkan oleh
siswa dan agar mereka tidak mengulangi kesalahan. Di sini siswa diharapkan
juga dapat menciptakan gagasan-gagasan baru. . (Rusman, 2010: 325-329).
Sehingga dalam Model Pembelajaran PAIKEM guru & siswa dituntut
untuk lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Misalnya dalam
pembelajaran PKn kelas 3 tentang Bangga Sebagai Bangsa Indonesia.
Contohnya pada materi diatas guru mengajak siswa melakukan proses
pembelajaran memalui model Bermain Peran, disini siswa dituntut untuk ikut
aktif, kreatif dalam memperkenalkan budaya, sehingga pembelajaran didalam
kelas menjadi menyenangkan bagi siswa. Dan guru juga dapat
menyampaikan pembelajaran secara efektif.

42
B. Ciri-Ciri Model Pembelajaran PAIKEM
Secara garis besar, ciri-ciri PAIKEM menurut pelatihan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS)  adalah sebagai berikut:
a) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman
dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat
(learning to do).
b) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat,
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk
menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
c) Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang
lebih menarik dan menyediakan “pojok baca”.
d) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
e) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan
melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Sedangkan menurut Rose dan Nocholl dalam (Jamal Ma’mur Asmani,
2011:84)mengatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran yang menyenangkan adalah
sebagai berikut.
a) Menciptakan lingkungan tanpa stres (rileks), yaitu lingkungan yang aman
untuk melakukan kesalahan, namun dengan harapan akan mendapatkan
kesuksesan yang lebih tinggi.
b)  Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan.
c) Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Pada umumnya,
hal tersebut dapat terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain, ketika
ada humor dan dorongan semangat, waktu rehat dan jeda yang teratur,
serta dukungan antusias.
d) Melibatkan secara sadar semua indra dan otak kiri maupun kanan.

42

e) Menentang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan
mengekspresikan apa yang sedang dipelajari, dan sebanyak mungkin
kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.
PAIKEM merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan
paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses
Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media,
referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan
pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog
atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali
tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah
lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan
melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan
dan/atau wawancara). (Jamal Ma’mur Asmani, 2011:84).
C. Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran PAIKEM
Pelaksanaan pembelajaran yang mengutamakan aspek keaktifan, kreatifitas dan
inovatif, sehingga membuat pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan,
menuntut guru untuk menguasai berbagai metode mengajar serta keterampilan
dasar mengajar. Penguasaan berbagai metode mengajar tersebut akan memberi
keleluasaan untuk memilih metode yang sesuai dengan metode yang sesuai dengan
tujuan, materi, peserta didik dan aspek-aspek lainnya, sehingga prinsip-prinsip
PAIKEM dapat diterapkan secara optimal.
Prinsip-prinsip pembelajaran PAIKEM antara lain:
a. Mengalami : Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun
emosional. Melalui pengalaman langsung pembelajaran akan lebih
memberi makna kepada sisa dari pada hanya mendengarkan.
b. Komunikasi : Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya
komunikasi antara guru dan peserta didik.
c. Interaksi : Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi
multi arah.

42

d. Refleksi : Kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik
memikirkan kembali apa yang telah dilakukan. Proses refleksi sangat
perlu dilakukan untuk mengetahui sejauhmana ketercapaian proses
pembelajaran.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa indikator dan prinsip-prinsip penerapan PAIKEM
adalah sebagai berikut.
Indikator dan Prinsip-prinsip Penerapan PAIKEM
No. Indikator Proses Penjelasan Metode
1. Pekerjaan Peserta
Didik(Diungkapkan
dengan bahasa/kata-
kata peserta didik
sendiri)

PAIKEM sangat
mengutamakan agar
peserta didik mampu
berpikir, berkata-
kata, dan
mengungkap sendiri.

Guru membimbing
peserta didik dan
memajang hasil
karyanya agar
dapat saling
belajar.

2. Kegiatan Peserta Didik
(peserta didik banyak
diberi kesempatan
untuk mengalami atau
melakukan sendiri)

Bila peserta didik
mengalami atau
mengerjakan sendiri,
mereka belajar
meneliti tentang apa
saja.

Guru dan peserta
didik interaktif dan
hasil pekerjaan
peserta didik
dipajang untuk
meningkatkan
motivasi.

3. Ruangan Kelas
(penuh pajangan hasil
karya peserta didik dan
alt peraga sederhana
buatan guru dan
peserta didik)

Banyak yang
dipajang di kelas dan
dari pajangan hasil
itu peserta didik
saling belajar. Alat
peraga yang sering
dipergunakan
diletakkan strategis.

Pengamatan
ruangan kelas dan
dilihat apa saja
yang dibutuhkan
untuk dipajang, di
mana, dan
bagaimana
memajangnya.

4. Penataan Meja dan
Kursi

Guru melaksanakan
kegiatan

Diskusi, kerja
kelompok, kerja

42
(Meja dan kursi tempat
belajar peserta didik
dapat diatur  secara
fleksibel)

pembelajaran
dengan berbagai
cara/metode/teknik,
misalnya melalui
kerja kelompok,
diskusi, atau aktivitas
peserta didik secara
individual.

mandiri,
pendekatan
individual guru
kepada murid yang
prestasinya kurang
baik, dan lain
sebagainya.

5. Suasana bebas
(Peserta didik memiliki
dukungan suasana
bebas untuk
menyampaikan atau
mengungkapkan
pendapat).

Peserta didik dilatih
untuk
mengungkapkan
pendapat secara
bebas, baik dalam
diskusi, tulisan,
maupun kegiatan
lain.

Guru dan sesama
peserta didik
mendengarkan dan
menghargai
pendapat peserta
didik lain, diskusi,
dan kerja
individual.

6. Umpan Balik Guru
(guru memberi tugas
yang bervariasi dan
secara langsung
memberi umpan balik
agar peserta didik
segera memperbaiki
kesalahan).

Guru memberikan
tugas yang
mendorong peserta
didik bereksplorasi;
dan guru
memberikan
bimbingan individual
atau pun kelompok
dalam hal
penyelesaian
masalah.

Penugasan
individual atau
kelompok;
bimbingan
langsung; dan
penyelesaian
masalah.

7. Sudut Baca
(Sudut kelas sangat
baik bila diciptakan
sebagai sudut baca

Sawah, lapangan,
pohon, sungai,
kantor Pos,
Puskesmas, stasiun

Observasi kelas,
diskusi, dan
pendekatan
terhadap orangtua.

42

untuk peserta didik) dan lain-lain
dioptimalkan
pemanfaatannya
untuk pembelajaran.

8. Lingkungan Sekitar
(Lingkungan sekitar
sekolah dijadikan
media pembelajaran)

Sawah, lapangan,
pohon, sungai,
Kantor Pos,
Puskesmas, stasiun
dan lain-lain
dioptimalkan
pemanfaatannya
untuk pembelajaran.

Observasi
lapangan,
eksplorasi, diskusi
kelompok, tugas
individual, dan lain-
lain.

D. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM
A. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa,
anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak
bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu.
Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir
kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus
kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan,
tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil
karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang
mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan
pembelajaran yang subur seperti apayang dimaksud
B. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki
kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, kreatif,
Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus
tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu
mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan
belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan

42

untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal
kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga
belajar anak tersebut menjadi optimal.
C. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan
atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu,
anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan
pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk
berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan
bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara
perorangan agar bakat individunya berkembang
D. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah.
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan
kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan
kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir
tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang
keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah
mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau
mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-
kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata
“Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
E. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam
PAIKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang
kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan
memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa
lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau
kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli,
puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan

42

hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam
pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
F. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya
untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar,
tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan
sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar.
Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan
dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu.
Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti
mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan,
berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram
G. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian
umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi
antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan
daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus
secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam
menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa
hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru
berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri
siswa daripada hanya sekedar angka
H. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan
sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi bangku dan meja diatur berkelompok serta
siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang
sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering
bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan
merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah
tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau
takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan

42

penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari
temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAIKEM’.
E. Penerapan Pembelajaran PAIKEM
1. Langkah-Langkah Pembelajarn PAIKEM
Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu
didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil
maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP, kegiatan pembelajaran
terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri
tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya dinyatakan dalam jam
pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA/SMK terdiri dari 45
menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka
untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini
guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan
kegiatan mandiri.
a. Kegiatan Tatap Muka
Untuk kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori
maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif,
presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan
kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian
pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah
yang menerapkan sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan
dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan
menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah
interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi.
b. Kegiatan Tugas terstruktur
Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak
dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus
maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu
pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang
digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. Kegiatan
tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan

42

kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman
belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan
dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok,
pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di
sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi.

c. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur
Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang
oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan
metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.
PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual dengan
pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang
memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi
pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating,
experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik
mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
 karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
 sumber referensi terbatas;
 jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
 alokasi waktu terbatas; dan
 jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau
bahan banyak.

2. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
 Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan
pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar
melalui berbuat.
 Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam
membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai

42

sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan,
dan cocok bagi siswa.
 Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar
yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
 Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
 Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan
melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM
atau pembelajaran di kelas. Pada saat yang sama, gambaran tersebut
menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan
tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan
guru yang bersesuaian.
Kemampuan Guru Kegiatan Belajar Mengajar
1.Guru merancang dan
mengelola KBM yang
mendorong siswa untuk
berperan aktif dalam
pembelajaran

Guru melaksanakan berbagai KBM seperti:
      Percobaan
      Diskusi kelompok
      Memecahkan masalah
      Mencari informasi
      Menulis laporan/cerita/puisi
      Berkunjung keluar kelas
      Bermain peran

2.Guru menggunakan alat
bantu dan sumber yang
beragam.

Sesuai mata
pelajaran, guru dapat menggunakan:
      Alat yang tersedia atau yang dibuat
sendiri
      Gambar
      Studi kasus
      Nara sumber

42
      Lingkungan

3.Guru memberi
kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan
keterampilan

Siswa:
      Melakukan percobaan, pengamatan,
atau wawancara
      Mengumpulkan data/jawaban dan
mengolahnya sendiri
      Menarik kesimpulan
      Memecahkan masalah, mencari
rumus sendiri.
      Menulis laporan hasil karya lain
dengan kata-kata sendiri.

4.   Guru memberi
kesempatan kepada siswa
untuk mengungkapkan
gagasannya sendiri secara
lisan atau tulisan

Melalui:
      Diskusi
      Lebih banyak pertanyaan terbuka
      Hasil karya yang merupakan anak
sendiri
5.Guru menyesuaikan
bahan dan kegiatan belajar
dengan kemampuan siswa

      Siswa dikelompokkan sesuai dengan
kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
      Bahan pelajaran disesuaikan dengan
kemampuan kelompok tersebut.
      Siswa diberi tugas perbaikan atau
pengayaan.

6.Guru mengaitkan KBM
dengan pengalaman siswa
sehari-hari.

      Siswa menceritakan atau
memanfaatkan pengalamannya sendiri.
      Siswa menerapkan hal yang dipelajari
dalam kegiatan sehari-hari

7.Menilai KBM dan
kemajuan belajar siswa
secara terus-menerus

      Guru memantau kerja siswa.
      Guru memberikan umpan balik

F. Peran Guru dalam Pembelajaran PAIKEM
1. Peran yang Harus Dimainkan Guru

42

Ada banyak peran yang harus  dimain guru dalam proses pembelajaran. Peran-
peran tersebut adalah  sebagai berikut.
a. Caregiver (Pembimbing)
Predikat sebagai pembimbing bukanlah hal yang mudah. Predikat ini erat
sekali kaitannya dengan praktik keseharian. Seseorang tidak mungkin disebut
pembimbing jika dalam realisasinya tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya
sebagai pembimbing, guru harus mampu memperlakukan siswanya dengan
respek dan sayang (atau juga cinta).
Berikut ini beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh guru kepada anak
didiknya, karena akan meruntuhkan semangat anak dalam belajar, yang
akhirnya akan menggagalkan proses PAIKEM:
 Tidak boleh meremehkan/merendahkan siswa. Meskipun siswanya dari
keluarga miskin atau dari kampung, tidak boleh diremehkan. Semua siswa
harus merasa diperlakukan dengan respek.Guru  tidak boleh membuat
salah seorang siswa sebagai bahan olok-olok atau joke (guyonan).
 Tidak boleh memperlakukan kurang adil terhadap sebagian siswa. Siswa-
siswa harus tidak ada merasa dianaktirikan. Semua siswa harus merasa
disayang oelh gurunya.
 Tidak boleh membenci pada sebagian siswa. Guru tidak boleh
mengeluarkan kata-kata membenci kepada siswa.Guru dapat bersifat
tegas atau bahkan keras ketika menerapkan hukuman/sanksi.
b. Model (Contoh)
Gerak gerik guru sebenarnya selalu diperhatikan oleh setiap siswa.
Tindak tanduk, perilaku, dan bahkan gaya guru mengajar pun akan sulit
dihilangkan damenjadi lam ingatan setiap siswa. Lebih besar lagi, karakter guru
juga selalu diteropong sekaligus dijadikan cermin oleh siswa-siswanya. Pada
intinya guru akan dicontoh siswanya, baik kebiasaan buruk maupun kebiasaan
bagus.

c. Mentor (Penasihat)

42

Adanya hubungan batin atau emosional antara siswa dan gurunya,
menyebabkan guru harus berperan sebagai penasihat (mentor). Pada dasarnya,
guru tidak sekedar menyampaikan pelajaran di kelas, tanpa mempedulikan
apakah siswanya paham atau tidak, seolah-olah tidak mempunyai tanggung
jawab untuk menjadikan siswa pandai dalam materi pelajaran (ilmu) dan dalam
menjaga nilai-nilai moralitas bangsa. Lebih dari itu, guru harus sanggup menjadi
penasihat pribadi masing-masing siswa. Erat sekali kaitannya dengan peran
pembimbing, guru harus sanggup memberi nasihat ketika siswa membutuhkan.
Berikut ini gambaran lengkap mangenai peran guru dan siswa dalam PAIKEM
menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011:92) adalah.
1. Pembelajaran aktif
a. Guru aktif
a) Memantau kegiatan belajar siswa
b) Memberi umpan balik
c) Mengajukan pertanyaan yang menantang
d) Mempertanyakan gagasan siswa
b.    Siswa aktif
a) Membangun konsep bertanya
b) Bertanya
c) Bekerja, terlibat, dan berpartisipasi
d) Menemukan dan memecahkan masalah
e) Mengemukakan gagasan
f) Mempertanyakan gagasan
2. Pembelajaran inovatif
a.   Guru inovatif
a) Berperan sebagai fasilitator pembelajaran
b) Mengimplementasikan hal baru yang cocok dengan materi
b.   Siswa inovatif
a) Menemukan cara untuk memperdalam materi

3. Pembelajaran kreatif

42

a. Guru kreatif
a) Mengembangkan kegiatan yang menarik dan beragam
b) Membuat alat bantu belajar
c) Memanfaatkan lingkungan
d) Mengelola kelas dan sumber belajar
e) Merencanakan proses dan hasil belajar
b.   Siswa kreatif
a) Membuat/merancang sesuatu
b) Menulis/mengarang
4. Pembelajaran efektif
a.   Guru mencapai tujuan pembelajaran
b.   Siswa mencapai kompetensi yang diharapkan
5. Pembelajaran menyenangkan
a.  Siswa senang karena :
a) Kegiatannya menarik, menantang, dan meningkatkan motivasi
b) Mendapat pengalaman secara langsung
c) Kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan masalah semakin
meningkat
d) Tidak membuat siswa takut
b.  Guru senang karena mampu mengkondisikan anak agar mampu:
a) Berani mencoba/berbuat
b) Berani bertanya
c) Berani memberikan gagasan/pendapat
d) Berani mempertanyakan gagasan orang lain
Guru mempunyai tanggung jawab yang besar dalam merealisasikan peran di
atas. Gambaran PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan selama
pembelajaran. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan
kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.
Agar pelaksanaan PAIKEM berjalan sebagaimana diharapkan, John B. Biggs
and Ross Telfer, dalam Anwar Fuady, menyebutkan paling tidak ada 12 aspek

42

dari sebuah pembelajaran kreatif, yang harus dipahami dan dilakukan oleh
seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa:
a. Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk
berkembang sesuai dengan kecenderungan bakat dan minat mereka.
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa
tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka
membutuhkan.
c. Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan
entuisme terhadap ide serta gagasan mereka.
d. Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang
diminati dan penghargaan atas prestasi mereka.
e. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan
semangat pada pekerjaan lain berikutnya.
f. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk
membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata.
g. Memuji keindahan perbedaan potensi, karakter, bakat dan minat serta
modalitas gaya belajar individu siswa.
h. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh
dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri.
i. Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra
mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa.
j. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan
intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa.
k. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri
dan penemuan agar terbentuk budaya belajar yang bermakna
(meaningful learning) pada siswa.
l. Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan
semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam.
Proses pembelajaran akan berlangsung seperti yang diharapkan dalam
pelaksanaan konsep PAIKEM jika peran para guru dalam berinteraksi dengan
siswanya selalu memberikan motivasi, dan memfasilitasinya tanpa mendominasi,

42

memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif, membantu dan mengarahkan
siswanya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui proses
pembelajaran yang terencana. Perlu dicatat bahwa tugas dan tanggung jawab
utama para guru dalam paradigma baru pendidikan ”bukan membuat siswa
belajar” tetapi ”membuat siswa mau belajar”, dan juga ”bukan mengajarkan mata
pelajaran” tetapi ”mengajarkan cara bagaimana mempelajari mata pelajaran ”.
Prinsip pembelajaran yang perlu dilakukan: ”Jangan meminta siswa Anda hanya
untuk mendengarkan, karena mereka akan lupa. Jangan membuat siswa Anda
memperhatikan saja, karena mereka hanya bisa mengingat. Tetapi yakinkan
siswa Anda untuk melakukannya, pasti mereka akan mengerti”.
Berbicara tentang pendekatan, model, strategi, metode, dan teknik mana
yang relevan dengan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan, pada dasarnya semua pendekatan, model, strategi, metode,
dan teknik adalah relevan dan cocok diterapkan dalam pembelajaran yang aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru hanya tinggal menyesuaikan
strategi, teknik, metode atau model mana yang akan dipilih dengan
mempertimbangkan berbagai potensi dan kemampuan yang dimiliki baik oleh
sekolah, guru, maupun siswa. Masing-masing model, strategi, teknik, dan
metode memiliki karakteristik masing-masing, termasuk kelebihan dan
kekurangannya.
G. Model Pembelajaran yang Berorietasi pada PAIKEM
1. Examples Non Examples
Langkah-langkah :
 Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan
pembelajaran
 menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
 Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk
memperhatikan/menganalisa gambar

42

 Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa
gambar tersebut dicatat pada kertas
 Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
 Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi
sesuai tujuan yang ingin dicapai
 Kesimpulan
2. Picture And Picture
Langkah-langkah :
 Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
 Menyajikan materi sebagai pengantar
 Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan
dengan materi
 Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian
memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
 Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
 Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan
konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
 Kesimpulan/rangkuman
3. Numered Head Together
Langkah-langkah :
 Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok
mendapat nomor.
 Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya

42

 Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap
anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
 Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil
melaporkan hasil kerjasama mereka
 Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang
lain
 Kesimpulan
4. Cooperative script
Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan
bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang
dipelajari. (Dansereau CS., 1985)
Langkah-langkah :
 Guru membagi siswa untuk berpasangan
 Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat
ringkasan
 Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai
pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
 Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan
memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar :
 Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
 Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan
materi sebelumnya atau dengan materi lainnya

42

 Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar
dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
 Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
 Penutup
5. Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah :
 Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok
mendapat nomor
 Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan
terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas
mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga
melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
 Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh
keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa
bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan
tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja
sama mereka
 Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
 Kesimpulan
6. Student Teams-Achievement Divisions (STAD)
Tim Siswa Kelompok Prestasi (SLAVIN, 1995)
Langkah-langkah :
 Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen
(campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)

42
 Guru menyajikan pelajaran
 Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-
anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya
sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
 Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat
menjawab kuis tidak boleh saling membantu
 Memberi evaluasi
 Kesimpulan
7. Jigsaw (Model Tim Ahli)
Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and Snapp (1978)
Langkah-langkah :
 Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
 Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
 Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
 Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab
yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk
mendiskusikan sub bab mereka
 Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok
asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab
yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan
sungguh-sungguh
 Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
 Guru memberi evaluasi

42

 Penutup
8. Problem Based Introductuon (PBI)
Langkah-langkah :
 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang
dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan
masalah yang dipilih.
 Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik,
tugas, jadwal, dll.)
 Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah,
pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
 Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang
sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan
temannya
 Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

H. Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran PAIKEM
Menurut Asmani (2011:191) beberapa kendala dan tips dalam aplikasi
pembelajaran PAIKEM yaitu:
1. Kendala dalam PAIKEM
a. SDM Guru
Dalam penerapan PAIKEM, dibutuhkan guru yang kreatif, yaitu guru yang
mampu mencari celah ditengah keterbatasan, kepenatan dan kejenuhan siswa.
Guru kreatif mampu menyegarkan suasana, membangkitkan semangat dan

42

memompa potensi siswa. Guru kreatif mampu menyuguhkan variasi pendekatan
strategi yang dinamis, kontekstual dan produktif. Ironisnya, mayoritas guru masih
banyak yang jauh dari kategori kreatif ini. Mereka lebih suka menempatkan siswa
sebagai objek, tidak memberikan ruang diskusi interaktif dan hamya berpikir
menuntaskan target kurikulum, tanpa melihat daya serap anak didik.
b. Siswa Pasif
PAIKEM membutuhkan mentalitas siswa yang aktif, kritis, analitis dan
responsive. Dengan mentalitas seperti ini, pembelajaran akan berjalan
dengan gayeng , berkualitas dan penuh makna. Siswa semakin kaya akan
pengetahuan, wacana dan informasi. Kedewasaan dan kematangan akan
tumbuh dalam berdiskusi. Mayoritas siswa dinegeri ini masih termasuk kategori
pasif. Mereka belum terbiasa untuk bertanya, berdiskusi dan berdebat. Ini tidak
lepas dari fakta selama ini bahwa sekolah bukan lembaga yang menyamai
berpikir kritis, analitis dan solutif. 
c. Sarana dan Prasarana
PAIKEM membutuhkan sarana prasarana yang representative.
Pengaturan ruang mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan animo dan
antusiasme guru dan siswa. Dengan ruangan yang dikondisikan, secaar
psikologis guru dan siswa akan bergerak motivasi untuk mempraktikannya.
Tanpa sarana dan prasarana sebenarnya PAKEM bisa dilaksanakan, tergantung
kreativitas guru, namun hasilnya lebih memuaskan apabila ada sarana
prasarana yang mendukung.
d. Lemahnya Pengawasan
Guru membutuhkan pengawasan dalam pengajarannya. Dalam aplikasi
PAIKEM, pengawasan harus lebih ditingkatkan. Dengan adanya pengawasan
langsung, guru akan terdorong untuk menerapkan PAIKEM dengan baik.

42
e. Manajemen kurang mendukung
Manajemen tertutup, sentralistik dan dictator sudah harus dihilangkan
dalam model manajemen modern sekarang ini. Karena tidak mampu
mengembangkan kretativitas dan menghambat lahirnya inovasi spektakuler yang
lainnya.
f. Anggaran
Memang harus diakui, anggaran menjadi masalah klasik didunia
pendidikan, khususnya kalangan swasta yang tidak kreatif dan inovatif dalam
mencari trobosan dana. Berbeda halnya dengan kalangan swasta yang progresif
dalam mengembangkan aspek ekonomi. Mereka dengan leluasa merespon
setiap perkembangan dan perubahan dengan cepat dan akurat.
2. Tips dalam aplikasi PAIKEM
a. Memprioritaskan Pelatihan Guru
Ujung tombak PAIKEM adalah guru. Ditangan gurulah terletak efektif
tidaknya PAIKEM. Oleh sebab itu, langkah yang pertama dan utama untuk
meyukseskan program ini adalah mengadakan pelatihan guru secara intensif
dan ektensif.
b. Optimalisasi Microteaching
Microteaching menjadi trobosan progresif dalam pengajaran.
Microteaching ini bisa dijadikan eksperimentasi PAIKEM.
c. Mencoba Teamteaching
Teamteaching adalah sisten mengajar yang diasuh oleh beberapa guru
yang mempunyai keahlian mendalam (tim). Misalnya IPA diasuh oleh 2 guru,
yang satu menerangkandan yang lainnya mengamati dalam kelas untuk melihat
respons siswa dan berusaha menggugah semangat belajar siswa.

42
d. Menerapkan Moving Class
Moving class adalah system pembelajaran di mana siswa harus
berpindah-pindah kelas, sesuai pelajaran yang diajarkan. Siswa perlu suasana,
tempat dan kondisi baru sehingga tidak jenuh.
e. Berlatih Membuat Ice Breaker
Salah satu cirri PAIKEM adalah menyenangkan. Oleh karena itu, guru
harus mampu membuat suasana gembira, misalnya dengan membuat ice
breaker (pemecah kebekuan) agar suasana menjadi cair, humoris dan tidak
tegang.
f. Membuat Diktat Praktis
Ketika menyusun diktat, guru harus menulisnya denga gaya PAIKEM,
yaitu diktat yang bisa menjadi panduan pembelajran interaktif, menyenangkan
dan mempunyai kualitas tinggi.
g. Sedikit Bicara Banyak Diamnya
Guru yang baik adalah guru yang sedikit bicara banyak diamnya.
Sedangkan siswa yang baik adalah yang banyak bicara, sedikit diamnya.
Artinya, guru berusaha menahan diri untuk tidak banyak berbicara. Biarkan
siswa-siswa mengekspresikan gagasan dan pemikirannya secara leluasa.
I. Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran PAIKEM
1. Kelebihan PAIKEM
a. Dalam pakem siswa belajar bekerja sama
b. Paikem mendorong siswa menghasilkan karya kreatif
c. Paikem menghargai potensi semua siswa
d.

42

Peserta didik akan lebih termotivasi untuk belajar karena adanya variasi d
alam proses  pembelajaran
e. Peserta didik dapat lebih mengembangkan dirinya
f. Peserta didik tidak jenuh dengan pembelajaran di kelas
g.  Mental dan fisik peserta didik akan terasah secara optimal
h. Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional
i. Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah
j. Metode ini mampu melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi.
k. Melatih siswa menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri
2. Kekurangan PAIKEM
a.

Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapa
i target kurikulum
b.

Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat
 melakukannya.
c.

Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strateg
i pembelajaran ini bergantung pada image guru.
d.

Membutuhkan dana, dalam pembelajaran PAIKEM sering kita memakai m

42

edia sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pe
mbelajaran
e.

Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAKEM guru dituntut untuk ke
rja extra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan 
pembelajaran yang diinginkan
f.

Manajemen kelas, dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat mencip
takan suasanakelas yang kondusif dan menyenangkan.

J. Implemetasi Model Pembelajaran PAIKEM dalam Pembelajaran PKn SD
Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa pendekatan PAIKEM diterapkan
di Indonesia, yakni: Pertama, PAIKEM lebih memungkinkan peserta didik dan guru
sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Selama ini kita mengenal
pembelajaran model konvensional yang dinilai hanya guru yang aktif (monologis),
sementara peserta didiknya pasif, sehingga pembelajarannya dinilai menjemukan,
kurang menarik, dan tidak menyenangkan. Kedua, PAIKEM lebih memungkinkan,
baik peserta didik maupun guru sama-sama kreatif. Guru berupaya kreatif, mencoba
berbagai cara melibatkan semua peserta didiknya dalam pembelajaran. Sementara
peserta didik juga dituntut kreatif pula dalam berinteraksi dengan sesama teman,
guru, maupun bahan ajar dengan segala alat bantunya sehingga pada akhirnya
hasil pembelajaran dapat meningkat. Dalam pembelajaran Model PAIKEM, seorang
guru mau tidak mau harus berperan aktif, proaktif dan kreatif untuk mencari dan
merancang media/bahan ajar alternatif yang mudah, murah dan sederhana tetapi
tetap memiliki relevansi dengan tema mata pelajaran yang sedang dipelajari siswa.

42

Penggunaan perangkat multimedia seperti ICT sungguh sangat ideal, tetapi tidak
semua sekolah mampu mengaksesnya. Tanpa merendahkan sifat dan nilai
multimedia elektronik, para guru dapat memilih dan merancang media pembelajaran
alternatif dengan menggunakan berbagai sumber lainnya, seperti bahan baku yang
murah dan mudah di dapat, seperti bahan baku kertas/plastik, tumbuh-tumbuhan,
kayu dan sebagainya, guna memotivasi dan merangsang proses pembelajaran yang
kreatif dan menyenangkan.
Model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, atau yang
kita sebut dengan PAIKEM itu tidak selalu mahal. Unsur kreativitas itu bukan terletak
pada produk/media yang sudah jadi, tetapi lebih pada pola pikir dan strategi yang
digunakan secara tepat oleh seorang guru itu sendiri dalam merancang dan
mengajarkan materi pelajarannya. Seperti misalnya bagaimana seorang guru sains
di sebuah sekolah menggunakan alat peraga simulasi (Holikopter) yang dibuat dari
kertas karton yang diapungkan di depan kelas dengan menggunakan sebuah blower
untuk memudahkan para siswa dalam memahami prinsip-prinsip yang berkaitan
dengan mata pelajaran tersebut. Proses pembelajarannya mudah dipahami dan
sangat menyenangkan. Media simulasi ini tidak dibeli sudah jadi, tetapi dirancang
oleh seorang guru mata pelajaran sains itu sendiri. Dalam merancang sebuah media
pembelajaran, aspek yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang guru
adalah karakteristik dan modalitas gaya belajar individu peserta didik. Media yang
dirancang harus memiliki daya tarik tersendiri guna merangsang proses
pembelajaran yang menyenangkan. Sementara ini media pembelajaran yang relatif
cukup representatif digunakan adalah media elektronik (Computer – Based
Learning). Selanjutnya skenario penyajian ’bahan ajar’ harus dengan sistem
modular dengan mengacu pada pendekatan Taksonomi Bloom. Ini dimaksudkan
agar terjadi proses pembelajaran yang terstruktur, dinamis dan fleksibel, tanpa
harus selalu terikat dengan ruang kelas, waktu dan/atau guru.
Tujuan akhir mempelajari sebuah mata pelajaran adalah agar para siswa
memiliki kompetensi sebagaimana ditetapkan dalam Standar Kompetensi
(Kurikulum Nasional). Untuk itu langkah/skenario penyajian pembelajaran dalam

42

setiap topik/mata pelajaran harus dituliskan secara jelas dalam sebuah Modul.
Dengan demikian diharapkan para siswa akan terlibat dalam proses pembelajaran
tuntas (Mastery Learning) dan bermakna (Meaningful Learning).
Dalam mendesain pembelajaran PAIKEM, menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011:
150) ada lima prinsip utama yang harus diperhatikan yaitu.
1) Prinsip kesiapan dan motivasi
Dalam kegiatan belajar, siswa yang memiliki kesiapan seperti kesiapan
mental, fisik, dan motivasi tinggi maka hasil belajarnya akan lebih baik.
2) Prinsip penggunanan alat pemusat perhatian
Cara yang dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian siswa adalah :
a) Mengkaitkan pelajaran dengan pengalaman atau kehidupan siswa.
b) Menggunakan alat bantu pemusat perhatian misalnya media pembelajaran
dan alat peraga.
c) Menghubungkan pesan pembelajaran yang sedang dipelajari dengan topik
yang sudah dipelajari.
d) Mengunakan musik penyeling.
e) Menciptakan suasana riang.
f) Teknik penyajian yang bervariasi.
g) Mengurangi bahan/materi yang tidak relevan.
3)  Prinsip partisipasi aktif siswa
Cara yang dapat ditempuh adalah :
a) Memberikan pertanyaan saat PBM berlangsung
b) Mengerjakan latihan setiap akhir suatu bahasan

42

c) Membuat percobaan dan memikirkan atas hipotesis yang diajukan
d) Membentuk kelompok belajar
e) Menerapkan pembelajaran kontekstual, kooperatif, dan kolaboratif.
4) Prinsip umpan balik
Cara yang ditempuh adalah :
a) Memberikan soal kemudian membahas soal tersebut
b) Memberikan tugas kemudian memberikan coretan atau komentar terhadap
pekerjaan siswa
5) Prinsip pengulangan
Pengulangan dapat dilakukan dengan memperdengarkan hasil rekaman saat
guru mengajar atau memberikan tugas kepada siswa untuk membaca buku
dengan topik yang sama. Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan bakat,
minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya.
Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam
modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial, dan kinestetik. Dengan
modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada
indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa),
kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan
menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada
‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan
memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang
guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi pembelajaran
kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar
siswa.
Dalam proses pelaksanaan PAIKEM menurut Jamal Ma’mur Asmani
(2011:99), ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain.

42
1) Memahami sifat yang dimiliki anak. 
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak
desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak
bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu.
Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir
kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus
kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan,
tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil
karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang
mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan
pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2) Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki
kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus
tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu
mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan
belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan
untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal
kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga
belajar anak tersebut menjadi optimal.
3) Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar 
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan
atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu,
anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan
pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk
berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan

42

bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara
perorangan agar bakat individunya berkembang.
4) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah 
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan
kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan
kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir
tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang
keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah
mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau
mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-
kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata
“Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam
PAIKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang
kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan
memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa
lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau
kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli,
puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan
hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam
pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar 
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya
untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar,
tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan
sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar.

42

Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan
dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu.
Pemanfaatan lingkungan dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti
mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan,
berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar.
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk
interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap
kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik
pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri
dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten
memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan.
Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi
pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8) Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental 
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan
sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok
serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang
sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering
bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan
merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah
tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau
takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan
penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari
temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan
pembelajaran PAIKEM.

42
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ) PAIKEM adalah
singkatan dari pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif
yang dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus mampu
menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. pembelajaran inovatif adalah suatu
proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan
pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru. pembelajaran kreatif
adalah salah satu pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir siswa melalui penemuan-penemuan gagasan
baru. pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan
belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa melalui penggunaan prosedur

42

penggunaan yang tepat. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran
yang dinikmati dengan baik oleh siswa.
B. Saran
Saran penulis dalam model-model pembelajaran sebagai kerangka untuk
menycapai tujuan para calon guru khususnya dan umumnya bagi para pembaca
semoga dengan adanya makalah ini bisa mendapatkan pengetahuan yang bisa
diterapkan saat mengajar sehingga apa yang dicita-citakan mengenai tujuan
pendidikan bangsa Indonesia yaitu untuk mewujudkan kecerdasan bangsa dapat
tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Rusman. 2010. Model-model Pembelajaran. Jakarta:Raja GrafindoPersada.
http://desirachmawati79.blogspot.co.id/2014/05/model-pembelajaran- paikem.html

Komentar